sumb photo gemini.ai


"Manusia binatang! ", ini merupakan kata-kata kasar yang sedari dulu dipahami banyak orang dan tidak layak untuk diucapkan. Kata-kata ini punya konotasi negatif. Mereka yang mengucapkan kata ini biasanya merupakan seseorang yang akumulasi kemarahannya sudah tidak bisa dibendung lagi dalam dadanya melihat tingkah polah manusia yang keterlaluan, sehingga mengumpat jadi salah satu yang bisa dilakukan. 

Tapi, hari ini dengan terbongkarnya kasus korupsi yang menjerat ex Dirut Kebun Binatang Surabaya, Choirul Anwar menjadi tersangka kasus korupsi pakan hewan dari tahun 2016-2024 sebesar Rp. 10,2 miliar. Kata manusia binatang rasanya menjadi tidak kasar dan sepertinya layak diberikan kepada mereka yang melakukan perbuatan ini.

Beliau ini hanya sosoknya saja yang manusia, tapi sifat dan perilakunya tidak mencerminkan seperti manusia yang punya daya pikir dan akal sehat. Perbuatan beliau ini sudah melampaui sifat dan perilaku kebinatangan itu sendiri, bahkan lebih rendah daripada binatang. Entah bagaimana jalan pikirannya?.

Binatang yang dikurung dan tidak bisa keluar cari makan, hanya bisa bergantung dari jatah pakan yang dianggarkan oleh negara, tega-teganya jatah mereka diembat oleh manusia.

Mereka terkurung tak berdaya, kurus, kelaparan dan mati dalam kandang. Jatah pakan mereka, dimakan oleh bajingan yang katanya manusia sebagai makhluk sempurna yang punya otak dan nurani, fakta mirisnya yang terjadi justru sebaliknya.

Manusia ternyata binatang omnivora yang rakus dan buas. Manusia adalah pemakan segalanya. Hutan-hutan mereka babat, gunung mereka papras, isi perut bumi mereka keruk, aspal, beton, batu, babi, ular, tapir dan apapun itu, dimakan oleh manusia. Mereka tidak peduli alam hancur, yang penting perut mereka kenyang.

Lebih buas mana manusia dengan binatang buas?, jawabannya sudah tentu manusia lebih buas dari bintang buas. Manusia bisa membunuh manusia, meminum darahnya, memutilasi, mencincang, merebus dan memakan daging sesamanya, kanibalisme.

Sifat manusia lebih kejam daripada binatang. Mereka bisa membuat menderita jutaan manusia lainnya, melalui perilaku korupnya. Mereka tidak peduli nasib sesamanya yang mencari makan masih mengais-ngais ditong sampah, yang mereka pikir perut dan kenyamanan mereka sendiri. Sesama manusia saja mereka tega, apalagi sama binatang.

Memang nasib miris dan tragis menjadi binatang di negeri yang punya hutan seluas 95,5 juta hektar atau 51,1℅ dari total keseluruhan daratan pada tahun 2024. Namun, hutan yang merupakan rumah mereka dari tahun ke tahun terus ditebang dan dihancurkan begitu saja. Setelah hutan terdeforistasi binatang-binatang itu kehilangan rumah dan sumber makanan, lalu mereka keluar hutan dan masuk perkampungan mencari sumber makanan, ada ditangkap, lalu ditempatkan di kebun binatang, eh... tapi sampai kebun binatang makannya dikorupsi. Itu yang nasibnya agak lumayan, ada yang nasibnya lebih sial lagi seperti si Tapir Sumatera yang ditangkap, kemudian disembelih oleh warga di Mesuji, Lampung. Sungguh, kejam ya manusia itu?.

Pantas saja menurut Ilmu Biologi dan Teori Evolusi Charles Darwin, manusia termasuk kedalam kelompok binatang pada tingkat taksonomi, yaitu dalam kategori kingdom animalia. Namun, kenyataannya persamaan manusia tidak hanya berdasarkan taksonomi belaka, kita juga memiliki sifat, watak dan karakter kebinatangan juga, sama-sama liar, sama-sama buas, sama-sama kejam, cuma bedanya hanya pada otak yang bisa mengontrolnya. Masalahnya, tidak semua manusia dalam bertindak pakai otak, ada yang memakai emosi,  nafsu dan naluri kebinatangannya untuk bertahan atau menguasai, makanya kita sering melihat kelakuan manusia yang kadang enggak ada otak. 

"Dasar manusia enggak ada otak!", begitulah kita mengumpat.


Disini, di Negeri Antah Brantah tempatku tinggal, tidak hanya manusia bintang yang ada. Selain manusia binatang, mereka merangkap sebagai londo ireng dan antek-antek asing sekaligus. Triple kill. Mereka tidak peduli nasib jutaan nasib manusia lainnya, yang mereka pikirkan keuntungan pribadi dan kroninya. Saat mereka punya jabatan, dengan mudahnya membuat keputusan import tanpa peduli nasib ekonomi rakyatnya, saat mereka ekspor mereka lakukan praktek licik seperti underinvocing, underpricing dan cara-cara kotor lainnya. Mereka lebih senang menjadi antek-antek asing, mengutamakan import daripada memperdayakan rakyatnya. Mereka senang merugikan negara dan menguntungkan pihak asing. 

Tidak hanya itu, mereka meluncurkan project-project mercusuar yang terlihat seperti memihak pada rakyat dengan jumlah anggaran yang fantastis, coba bayangkan harga kipas angin saja bisa sampai 11 juta, tapi bayar guru dengan upah yang layak saja tidak mampu.

Project itu pada akhirnya menyedot anggaran negara hingga menyebabkan defisit. Pada Semester I, Tahun 2026, defisit anggaran negara sudah mencapai Rp. 196,5 triliun atau sekitar 0,76℅ dari PDB. Sekarang, mereka sedang pusing mencari jalan untuk membiayai project tersebut, karena anggaran sudah mulai mengering. Ujung-ujungnya, mereka menaikkan rasio pajak, memburu wajib pajak, bahkan mulai menggandeng militer untuk menakut-nakuti bagi mereka yang tidak patuh pajak. Ini sudah seperti londo ireng yang memaksa rakyat membayar upeti.

Padahal, project yang fantastis yang membuat anggaran negara mengering itu ternyata hanya kamuflase belaka untuk menilap uang rakyat belaka dan dibagikan secara brutal pada kroni-kroninya. Lihat saja isentif 6 juta sehari, pengadaan motor menelan anggaran 1 triliun, anggaran kipas angin 11 juta/ unit, pengadaan barang elektronik, sepatu dan kaos kaki yang nilai anggarannya diluar nalar. Ketika, anggaran mulai mengering, kita diminta serta diburu untuk taat pajak?. Sedang, mereka berfoya-foya menghamburkan uang kita.

Saat belang mereka ketahuan melakukan korupsi, ditetapkan tersangka dan memakai rompi oranye dengan senyum tanpa dosa mereka berjalan. Bahkan, dengan santai dan tegak kepala masih berani memberi keterangan pers. Memang kelakuan mereka, kelakuan manusia binatang sudah tidak punya urat malu.

Jangan heran, negaraku yang kaya dengan sumber daya alam yang melimpah ruah ini tidak mampu mensejahterakan penduduknya. Ini semua karena kelakuan para londo ireng, antek-antek asing dan kelakuan manusia binatang itu.

Dalam film Laskar Pelangi sudah disindir secara halus, bahwa kekayaan alam adalah kutukan bagi warga sekitar. Andrea Hirata menulis kondisi warga di Pulau Belitung yang punya kekayaan alam berupa timah, tapi masyarakatnya miskin dan sulit mendapatkan akses pendidikan yang layak seperti Lintang. Namun, film itu ternyata tidak mengugah dan mengubah kebiasaan manusia maupun pejabat di Negeri Antah Berantah. Sampai sekarang kelakuan mereka masih sama saja seperti semula dan lebih parah.

Londo ireng, antek-antek asing dan manusia binatang sejak dahulu di Negeri Antah Berantah ini selalu ada disetiap zamannya. Bahkan, mahasiswa yang dulu aktif dalam organisasi, turun ke jalan, bersuara lantang, tampil dimimbar-mimbar orasi mempimpin perlawanan, setelah lulus dan mendapat jabatan, kini pun ikut bungkam, suaranya hilang, menyerahkan jiwa raganya menjadi londo ireng, untuk bisa hidup nyaman mendapatkan cipratan kemewahan dari antek-antek asing, maupun manusia bintang itu atau malahan mungkin mereka merangkap ketiganya sekaligus.

Harapannya, baik londo ireng, antek-antek asing maupun manusia binatang di Negeri Antah Berantah bisa musnah dan negeri yang melimpah kekayaan alamnya ini dapat dikelola dengan benar, sehingga yang sejahtera bukan hanya manusia yang tinggal disana, tapi binatang maupun alamnya juga terjaga dengan baik.

Bungo, 31 Juli 2026