![]() |
| Ilustrasi photo bersumber dari gemini AI |
"Warga tenang saja, kita tidak akan menarik iuran kalian. Saya sudah dapat laporan dari Bendahara desa uangnya cukup. Uang kita banyak", tambah Tarjo meyakinkan.
Tepuk tangan dan sorak sorai warga tambah riuh. Tapi, Bejo dan Sudrun hanya diam saja, saling memandang penuh keheranan, dalam pikiran mereka timbul pertanyaan-pertanyaan besar.
Selepas pertemuan di Balai Desa, Bejo dan Sudrun tidak langsung pulang, tapi mereka hangout di warkop Mbok Siem yang ada dipinggir sungai dan dibawah rumpun bambu yang sejuk dan sepoi-sepoi, meski terik panas matahari menyengat.
"Lha, kok bisa lomba Agustusan hadiahnya mobil? ", penuh keheranan Sudrun bertanya.
"Tanpa narik iuaran dari warga lagi?", Bejo pun bertanya keheranan.
" Nah, sampeyan kok keheranan seperti itu", seloroh Mbok Siem sambil meletakkan es campur, kopi hitam dan sepiring pisang goreng dimeja.
"Ya heran to Mbah, kata Ustadz Yusuf Mansur darimana duitnya..?! ", saut Bejo dan Sudrun ikut mengangguk tanda sepakat sembari menyomot pisang goreng.
" Hemm... anak muda tidak update perkembangan desa ya gini jadinya. Sekarang desa kan punya usaha Kopdes. Gaji managernya saja dengar kabar sampai 16 juta per bulan. Buat hadiah mobil, motor atau sepeda listrik kecil lah itu", jawab Mbok Siem, lalu berlalu pergi kembali ke dapur.
"Bisa jadi, sih... ", Sudrun mengiyakan penjelasan Mbok Siem.
" Enggak bisalah, gaji 16 juta itu hoax, yang benar 8 juta. Aku masih ragu deh, sumber dananya. Apa benar dari Kopdes?", Bejo masih belum bisa percaya.
"Apalagi, kopdes kita baru jalan beberapa bulan ini", imbuhnya.
" Meragukannya dimana?, Pak Tejo sudah bilang kalau berdasarkan laporan yang diterima dari bawahannya keuntungan Kopdes sudah mencapai 200 juta dalam kurun waktu satu bulan", Mbok Siem meyakinkan Bejo sembari berjalan menyuguhkan kopi dan hidangan ke pengunjung warung lainnya.
"Masak iya?, kelihatannya sepi-sepi aja yang datang beli disana", Bejo tetap tidak percaya.
" Kalau itu Mbah enggak tahu, bisnis mereka mungkin tidak hanya dibidang retail saja, entah simpan pinjam atau usaha lainnya, kan kita enggak tahu?, tapi berdasarkan laporan yang di terima sama Pak Kades seperti itu", ucap Mbah Siem dengan santai.
Baca Juga :
"Aku sih percaya sama Mbah Siem, semoga dengan adanya Kopdes dan bisa memberikan keuntungan besar bagi desa ini, kedepannya warga desa kita semakin sejahtera. Sudahlah, buang keraguanmu itu, Jo... Kita mestinya bersyukur biasanya setiap agustusan ditarik iuran untuk acara Agustusan, sekarang kita tidak lagi ditarik dan tinggal menikmati saja acaranya. Ini berkah adanya Kopdes, betul kan Mbah? ", Sudrun bertanya pada Mbah Siem agar mendapat dukungan atas peryataan yang dia sampaikan.
Mbah Siem pun mengangguk tanda setuju.
"Tapi... bagiku ini masih tetap janggal", Bejo tetap tidak bergeming pada keraguannya.
" Kamu terlalu terpapar sama berita-berita negatif yang tersebar diluar sana tentang Kopdes. Jadinya seperti ini, selalu tidak percaya jika ada Kopdes bisa mensejahterakan warga disekitarnya", Sudrun agak geram dan mulai berbeda pendapat dengan Bejo.
"Bukannya meragukan, tapi ini kayak fantasi saja. Kopdes bisa untung sebegitu besarnya. Jangan-jangan kayak ibu pengupas bawang yang gajinya 700rb per kilo itu?, atau penggilingan padi yang bisa untung 2 triliun per bulan itu?", aku ini orangnya gampang trust issue, apalagi ada klaim serupa yang tidak berdasar. Emang omongan Mbok Siem bener kalau Kopdes untung segitu?", Bejo yang biasanya sedeng sekarang agak waras, tidak mau terjebak dalam informasi hoax.
"Lho... sumbernya valid A1, Jo... jangan anggap remeh meski Si Mbok sudah tua. Ini kemarin Pak RT yang ngomong, sama ada bukti video di Youtube yang direkam saat rapat berlangsung. Ini... ", kata Mbok Siem sambil menyodorkan video.
" Nah kan... mau meragukan apalagi dirimu? ", tanya Sudrun.
" Kalau memang benar ya bagus. Cuma rasanya kurang pas saja. Keuntungan Kopdes lebih baik disalurkan atau digunakan untuk memperlancar ekonomi warga, seperti memperbaiki jalan desa dan lorong-lorong. Memperbaiki sanitasi dan membantu bansos bagi warga miskin, kan lebih bermanfaat daripada acara yang hingar bingar dan kesenangan sesaat ", Bejo kini berkilah, karena Mbok Siem sudah memberikan bukti yang tidak bisa dibantah oleh Bejo.
" Itu urusan nanti, masing-masing sudah ada porsinya, tenang saja Jo... ini baru awal. Apa salahnya merayakan kemerdekaan republik ini dengan meriah yang cuma bisa kita lakukan satu tahun sekali", Sudrun menanggapi.
"Merayakan kemerdekaan?, ditengah banyaknya warga yang belum merdeka dari musibah bencana, gizi buruk, kemiskinan dan ketersediaan pendidikan yang layak bagi semua golongan. Aku sih mending dana untuk itu, kalau emang untung besar Kopdes ini. Saya sih, tetap meragukannya".
"Itu menurutmu, Jo..., saya setuju dengan Pak Tejo, untuk membuat acara Agustusan menjadi lebih mewah dan meriah".
" Ya... kita lihat saja. Apa benar itu akan terjadi minggu depan?, atau hanya omongan ambisius dari Pak Tejo", bagaimanapun Bejo tetap tidak percaya klaim mengenai keuntungan Kopdes yang fantastis tersebut.
Harapan Sudrun tentu bisa dimafhumkan, karena selama ini warga selalu rutin ikut iuran untuk acara-acara di desa, entah itu Agustusan, peringatan hari besar keagamaan, panen raya atau acara apa pun itulah. Kebijakan Pak Tejo sebagai kepala desa untuk tidak menarik iuran warga tentu disambut antusias warga dan ini terobosan baru yang bisa menjadi pondasi pemimpin-pemimpun di masa depan.
Skeptisisme Bejo juga bisa dimengerti. Banyak pejabat yang selalu mengatakan ini itu secara ambisius, namun kenyataannya sein kiri belok kanan atau istilahnya kini omon-omon saja. Janji-janji politik mensejahterakan warga sebelum terpilih sebagai kepala desa saja belum terpenuhi kalau pun sudah berjalan itu sebenarnya hanya proyek besar untuk menutupi korupsi. Maka, kegamangan Bejo sangat berdasar dan beralasan.
Dua hari menjelang acara Agustusan yang rencananya diadakan di lapangan desa, para RT ternyata bergerak serentak mengetuk-ngetuk pintu rumah warga untuk menarik iuaran acara Agustusan. Dalih mereka saat ditanya mengenai janji Pak Kades Tejo jawabannya bahwa anggaran atau keuntungan koperasi desa belum bisa dicairkan membiayai acara-acara kemasyarakatan atau kesejahteraan warga, karena berdasarkan rapat perangkat desa dengan pengurus koperasi desa dana keuntungan masih digunakan untuk memperkuat permodalan, operasional maupun ekspansi bisnis ke depan.
Bejo mendengar kabar ini pun tergelak.
"Piye, Drun... sudah bayar iuaran agustusan belum? ", sindri Bejo malam itu di pos ronda.
" Yo wes ta... ", dengan ekspresi muka masam.
" Sepertinya dirimu enggak ikhlas bayar iuran, Drun?"
"Gimana mau ikhlas, uang 100rb itu rencananya mau dipakai untuk beli tas sekolah si Dudum yang sudah jebol. Terpaksa kami harus memberikan pengertian kepadanya agar tidak terus merengek beli tas baru. Coba omongan Pak Tejo Terealisasi"
"Kan benar keraguanku tempo hari. Penjelasan dari Pak RT itu hanya alibi saja sebenarnya. Bisa jadi memang koperasi desa itu belum atau bahkan tidak menghasilkan keuntungan apa-apa. Malah sebaliknya, menanggung kerugian. Wong... sebenarnya kita bisa lihat dari tata perencanaan dan management yang amburadul dari segi pelaksanaannya. Koperasi desa dibuat asal berdiri begitu saja, enggak peduli menyerobot tanah siapa dan didirikan dimana. Pak Kades Tejo hanya memikirkan kuantitas daripada kualitas, ini lama-lama dana BUMDes dan dana desa bisa habis tersedot untuk membiayai program ambisius ini. Berawal dari situlah keraguanku muncul. Program desa tidak cukup dilaksanakan hanya berdasarkan pada niat yang baik saja, tapi tata rencana dan tata kelola yang baik perlu juga dipertimbangkan. Lihat saja, jalan lorong dahlia sekarang rusak masih belum ada perbaikan", Bejo menghela nafas panjang, tapi dia bisanya cuma ngomel, enggak tahu harus berbuat apa.
"Ya... begitulah nasib kita Jo. Kadang kita terlalu baik buat desa ini, kita bayar pajak, masih juga harus bayar iuran ini itu. Banyak sekali. Mencintai desa ini ternyata butuh ongkos yang besar ya..?. Padahal, kalau terjadi apa-apa kita harus usaha sendiri ", ucap Sudrun dengan muka murung.
Bejo pun hanya mengangguk saja, sepertinya lidahnya sudah kelu, atau.... memang sudah tidak malas mengomentari tentang desanya yang semakin hari semakin amburadul ini.
Ah... entahlah....
Bungo, 31 Agustus 2026

0 Comments
Post a Comment