"Piye, lee...?, makan bergizinya di sekolah hari ini pakai lauk apa?", tanya Sudrun pada Ucil cucu Mbah Saberang.

"Tadi kami dapat lauk ayam, ada susu, ada buahnya juga, hemm... enak Pak Dhe", dengan ekspresi bahagia Ucil menjawab.

" Syip... mantap... Sudah sana cepat pulang, ibumu nyariin nanti", kata Bejo sedikit mengusir. Ucil pun bergegas berlari menuju rumahnya yang hanya tinggal beberapa meter dari pos ronda, tempat nongkrong favorit Bejo.

"Wuiiiih... enak anak sekolah sekarang, dapat makan gratis. Beda nasib. Dulu kita bisanya makan ubi-ubian, nasi jagung dengan sambel korek atau minyak jelantah bekas goreng ikan asin, telur satu dibagi-bagi seperti pizza. Mau makan enak aja nunggu hajatan", Sudrun nyerocos kayak emak-emak lagi nostalgia.

"Sudah jangan banding-bandingkan tempo dulu. Zaman dan rezim sudah berbeda. Setiap senin sampai sabtu sekarang anak sekolah bisa makan enak dan bergizi, tapi ada bagian yang tidak enaknya juga", kata Bejo pikirannya menerawang, seperti ada yang salah dari program andalan ini.

"Apa yang tidak enaknya?, anak sekolah bisa dapat makan bergizi, bukannya itu bagus?", penasaran Sudrun bertanya.

" Bagus... sangat bagus, cuma program ini butuh dana yang sangat besar, sehingga harus memangkas anggaran-anggaran lainnya. Kementerian, lembaga bahkan pemerintah daerah diwajibkan melakukan penghematan dan akhirnya dampak menyakitkan ditanggung oleh rakyat juga".

"Terus?, harus dihentikan program ini?, nyatanya program ini membuat anak-anak sekolah bergembira dan kita rakyat tetap baik-baik saja sampai sekarang. Daripada uangnya habis dimakan oleh pejabat korup, mending dimakan anak-anak sekolah", Sudrun kontra dengan pendapat Bejo.

"Lebih tepatnya dievaluasi, kata siapa kita baik-baik saja. Kemarin kamu enggak dengar Mbah Roja tidak bisa berobat dirumah sakit lagi gara-gara BPJS-nya dinonaktifkan", ucap Bejo dengan nada sedikit meledek.

" Mbah Roja yang tinggal sendirian digubuk pinggir hutan itu?", Bejo mengangguk menjawab pertanyaan Sudrun, "ah... yang benar saja. Kalau gara-gara MBG ini program JKN jadi tersisihkan aku ikut tidak setuju. Keduanya penting, harus berjalan beriringan. Tidak bisa tidak", kini wajah Sudrun memerah menahan amarah.

" Tak hanya itu, bahkan anggaran pendidikan kabarnya juga ikut dipakai membiayai program MBG ini, apa worth it satu program andalan ini mengalahkan puluhan program prioritas lainnya? ", Bejo berhasil mengubah padangan Sudrun yang tadinya kontra.

Sumb photo: tempo.co




" Nahhh... mulai muncul keminggris mu. Sudah tahu lawan bicaramu cuma lulusan SD. Aku enggak bisa jawab pertanyaanmu, Jo... cuma dari perasaan dan nuraniku sebagai wong ndeso yang tidak paham politik, yo ndak setuju... Satu program mengalahkan program-program lainnya, kasihan orang-orang seperti Mbah Roja, sudah sepuh, mau berobat tidak bisa. Bener katamu tadi, program ini perlu di evakuasi... eh... evaporasi... eh... apa tadi?, eva... evaaa... "

"Evaborasi...!?"

"Bukannn, apa sihhh..?!"

"Evaluasi?"

"Nahhhh... itu maksudnya", Sudrun langsung tertawa lebar.

" Terus evaluasinya bagaimana?", Bejo sengaja memancing pertanyaan.

"Menurut akal bodohku, program-program yang sudah bagus dari pemerintah sebelumnya patut dipertahankan, apalagi program yang berpihak kepada wong cilik. Boleh MBG berjalan, tapi jangan sampai melakukan kanibal program lainnya. Yaa... kalau dari hasil evaluasi ternyata anggaran APBN tidak mampu, tak perlu dipaksakan. Itu menurut akal bodohku", Sudrun kali ini agak serius.

"Sepakat denganmu, Drunnn... Anggaran MBG ini memang fantastis jumlah dana yang harus dikeluarkan pemerintah. Per hari kira-kira sampai Rp. 855 miliar hingga Rp. 1,2 triliun. Mungkin, tanggapanku mengenai MBG ini supaya tidak diperuntukkan siswa-siswi yang mampu, tapi khusus anak sekolah yang berasal dari keluarga tidak mampu saja, dengan cara seperti ini anggaran MBG bisa ditekan", Bejo juga ikut-ikutan serius.

"Behhh... bener itu. Ngasih MBG ke anak-anak yang orang tuanya mampu, sama aja kayak garamin laut", kelekar Sudrun sembari manggut-manggut.

" Program ini terus dipaksakan, meski kenyataannya membebani anggaran. Hutang negara saat ini sudah mencapai Rp. 9.408 triliun yang artinya 40℅ dari PDB. Ini seperti bola salju yang bisa terus membesar".

"Ngeri sekali... bisa bangkrut negara ini, jika terus mengandalkan hutang untuk membiayai program-program pemerintah. Evaluasi yang cepat, pemerintah memang perlu melakukan evaluasi MBG hanya diperuntukkan siswa-siswi membutuhkan gizi dan stunting. Entah bagaimana mekanisme atau teknisnya biar pemerintah yang mikir", Sudrun sudah terbawa arus pemikiran Bejo.

"Iya harus begitu, tidak semua anak sekolah dapat MBG. Bagi orang tuanya mampu, tentu masalah gizi anak sudah tercukupi dan terpenuhi. Pemerintah hanya perlu fokus pada anak-anak yang tidak mampu. Sehingga, anggaran MBG bisa dipangkas, bisa tepat sasaran, dan program-program pemerintah seperti JKN maupun pembangunan infrastruktur, program prioritas tidak turut jadi korban", Bejo menguatkan opini Sudrun.

"Terus menurutmu gimana caranya?, agar program MBG tepat sasaran dan khusus anak-anak kekurangan gizi atau stunting itu?", Sudrun bertanya penasaran.

Bejo senyum kecut, " itu urusan pemerintah, urusan yang duduk diruang AC itu, itu urusan orang-orang yang kita pilih jadi wakil rakyat itu. Masak harus kita yang mikir? . Yaaa... merekalah. Banyak caranya jika mereka mau, bisa diberikan tunai, ditransfer ke rekening orang tua, biarkan orang tuanya yang memasak. Bisa juga meniru Program permakanan untuk lansia di Surabaya, yang digagas oleh Tri Rismaharini. Makanan dikirimkan secara rutin oleh Pemkot Surabaya untuk memastikan kebutuhan gizi para lansia terpenuhi dan itu terbukti berhasil, tanpa membebani anggaran Pemkot Surabaya ".

Sudrun tertawa, " He... he.. ".

" Kenapa? ", Bejo bertanya heran. 

Sudrun masih tergelak, "Gimana enggak tertawa... tadi katanya urusan pemerintah?, urusan wakil yang kita pilih?, tapi pyan jawab juga".

" Ha... ha... ha... ", Bejo akhirnya ikut tergelak juga, menyadari ucapan konyolnya.

"Udah, pyan saja yang jadi wakil kita".

" Ogah... mending ngarit, ora resiko".

Keduanya pun tergelak bersama, menikmati momen-momen lucu negara ini.

Bungo, 14 Februari 2026