Api konfik di Timur Tengah tidak benar-benar padam. Dari dahulu hingga sekarang konflik masih saja terjadi, dari negara satu pindah ke negara Timur Tengah lainnya. Motif konflik ini beragam meliputi masalah intervensi asing, ekonomi, dan alasan ideologi. Tentu, efeknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Timur Tengah, tapi juga berdampak pada kehidupan masyarakat di negara-negara lainnya.

Mulai dari perang Teluk 1, 2, 3, konflik Palestina, konflik Libya, konflik Suriah, konflik Tunisia, konflik Mesir, bahkan konflik terbaru pasukan gabungan Amerika-Israel terus menyerang Iran dampaknya sangat besar bagi ekonomi dunia. Pasar keuangan diseluruh negara kompak ambruk, harga gas maupun minyak melambung tinggi. Emas yang dikenal aset paling stabil pun kini menempati posisi tidak aman.

Iran tidak hanya menggunakan senjata militernya, tapi memakai taktik ekonomi yang terbukti membuat dunia kelabakan. Selat Hormouzt ditutup total, tanpa seizin militer Iran kapal-kapal tanker pengangkut minyak tidak bisa melintas.

Hasilnya, harga BBM meledak, bahkan di negara Amerika sendiri. Harga gas di Eropa sama saja mengalami kenaikan yang signifikan. Negara Asia turut mengalami darurat energi. India mengalami krisis energi, negara-negara ASEAN seperti Kamboja menutup ratusan SPBU dan menaikan harga BBM sebesar 18,91℅, Vietnam naikkan harga menjadi 50,66%, Laos 32,83℅, sedang Singapura 15,74℅. Belum lagi Filipina, maupun Malaysia yang sudah dalam kondisi darurat energi. Semoga Indonesia, tetap baik-baik saja. 

Perang ini bukan tentang Amerika, Israel dan sekutunya, namun tentang bagaimana cara mengendalikan dunia. Mengalahkan Iran dan membuatnya tunduk berarti menunjukkan super powernya Amerika mengontrol seluruh dunia lewat energi. Kita tahu sendiri, Presiden Donald Trump sangat getol mengampanyekan untuk kembali ke energi fosil sejak sebelum terpilih, bahkan secara terang-terangan ketidaksetujuannya mengenai energi hijau terutama mobil listrik.

Anda sebagai warga negara Indonesia harusnya bangga, konflik peperangan yang mengacaukan dunia ini ternyata sudah lama diprediksi oleh para pemimpin bangsa kita. Jauh-jauh hari para pemimpin kita sudah menjalankan strategi antisipasi mengahadapinya.

Berdaulat masalah pangan dengan membuka food estate, berdaulat energi melalui campuran BBM pertalite menggunakan etanol, solar dengan minyak kelapa sawit yang kini sudah mencapai B-40, lalu ada jelantah yang bisa diolah kembali menjadi avtur, bahan bakar pesawat. Sehingga, ditengah kekacauan dunia ini kita masih bisa tenang menyikapi.

sumb forum fb



Kemarin, mungkin kita mengolok-olok menteri ESDM kita, karena campuran etanol 10℅ dalam setiap liter BBM. Bahkan, kita sendiri tertawa dan mengejek beliau dalam meme yang berseliweran di sosial media. Tapi, kini saat negara lain krisis dan darurat BBM, warganya sibuk mencari BBM, kita masih bisa hidup tenang sambil rebahan scroll Tik Tok. Ini karena strategi jenius para pemimpin bangsa yang paham dan mampu membaca geopolitik jauh kedepan.

Tentu, sekarang kita harus bersyukur dengan  campuran etanol BBM kita tidak krisis, dengan adanya Biodiesel yang sudah mencapai B-40 kita tidak panic buying. Bahkan, dikondisikan yang sekarang ini kita akan sangat setuju campuran etanol atau minyak kelapa sawit dalam BBM mencapai 50℅ lebih asal tidak ada kelangkaan, asal tidak sampai darurat energi.

Strategi jenius ini sudah dilaksanakan dibawah kepemimpinan Presiden ke-7 Jokowi pada tanggal 04 November 2022 meresmikan penggunaan Bioetanol dari tebu serta campuran bensin pertamax dari 5℅ (E5), sampai 10℅ (E10), kebijakan ini pun diintruksikan kembali atau dilanjutkan oleh Presiden Prabowo Subianto agar negara kita tidak bergantung pada negara lain.

Program mengenai swasembada pangan, ketahanan energi maupun hilirisasi jadi fokus Presiden Prabowo semenjak masa kampanye yang mungkin sebagian besar dari kita menertawakannya, sekarang saat semua hal sudah terjadi, barulah kita bisa mengerti strategi dan arah kebijakan pemimpin bangsa ini yang punya visi ke depan, dibandingkan diri kita yang selalu nyinyir tanpa tahu ada apa yang terjadi dibalik layar.

Huft... ada strategi hebat lagi agar bangsa ini bisa berdaulat dan mungkin tidak populer ditengah-tengah masyarakat, yaitu program Waste To Energi (WTE) atau pengelolaan sampah menjadi energi. Pemerintah telah menyiapkan proyek ini bersama Danantara.

Intruksi ini resmi dikeluarkan oleh pemerintah melalui Perpres Nomor 109 Tahun 2025 agar Danantara terlibat dalam program WTE atau Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di 33 kota, dengan fokus awal di Bekasi, Denpasar. Jadi, sebagai rakyat kita tenang punya pemimpin yang jenius dan punya visi jauh kedepan.

Akhirnya, diujung tulisan ini, semoga kita tidak menjadi rakyat yang punya kebencian buta pada pemerintah, tidak anti pada pejabat yang semua kebijakannya kita anggap salah semuanya. Kita juga harus berani memberikan apresiasi, jika memang ada kebijakan dari pemerintah yang terbukti bagus untuk kita.

Begitu juga, kita tidak boleh cinta buta pada pemerintah maupun pejabat, yang membela habis-habisan meski kebijakannya ngawur. Kita tetap harus berani berteriak lantang melawan, jika memang kebijakannya menyengsarakan rakyat.

Semoga ditengah ketidakpastian global, Indonesia tetap aman, sejahtera dan mampu berdaulat baik di bidang pangan maupun energi. Serta, semoga konflik yang menyandera Timur Tengah, baik di Gaza maupun Iran segera mereda.

Bungo, 27 Maret 2026