photo by chatgpt



Hmmm....

Menarik napas dalam-dalam
setiap bayangmu melintas di pikiran

Dag dig dug...

Detak jantung tak bisa diredam
gusar datang membawa kerinduan

Ku sempatkan di sela kesibukan
menatap wajahmu sekilas pandangan

Di layar smartphone
di sana fotomu tersimpan

Hari ini semua tampak terang
meski di luar langit tertutup kabut asap

Bukan hanya hutan saja yang terbakar
tapi satwa-satwa pun kehilangan sangkar

Begitupun nasib kerinduan
di tengah desir aliran darah
perasaan dari detik ke detik
yang kian membuncah

Namun, nyaris tanpa tanda-tanda
datang seorang pembawa berita:

"Kau tak boleh berkomunikasi dengannya."

Aku bak ranting pohon
yang dahannya patah

Petir menggelegar
di musim gersang
yang mereka sebut El Niño

Hati tersambar
di tengah kerinduan
yang sedang membuncah

Linglung dan bingung
tertegun dan melongo

Secepat kilat, berita itu
mampu meluluhlantakkan
dan menyapu

Seketika rindu
meringkuk ketakutan
di sudut relung


Dia telah berpunya
bagaimana bisa terus mengejarnya?

Dia sudah berpenjaga
mana mungkin memaksa sebuah rasa?

Rayu tak lagi berguna
puisimu telah kehilangan makna
tak lagi berwarna

Ini adalah titah
Menjauhlah...

Ini sebuah perintah
Menyingkirlah...

Hadirmu... mengganggu
Pesanmu... mengusik

"Dia telah punya yang baru
mana mungkin kau dilirik?"
kata mereka menghardik

Jika kau mencintainya
turuti titah dan perintahnya

Bukankah kau ingin ia bahagia?
Maka, lepaskanlah ia...

Kau hanya berhak mencinta
bukan saling bercinta

Bagi para pecinta...
mencinta tak selalu berakhir bahagia
ia bahkan harus menanggung derita
sepanjang hayatnya

Ada yang tertulis dalam novel
berlanjut hidup menjadi sekuel

Abadi kisahnya
dalam karya

Ia mungkin tak memiliki raganya
tapi langgeng dalam ingatannya

Begitulah aku belajar
dari sekumpulan buku berjajar
di rak rapi, bersusun, bersandar

Kisah tertulis takkan pudar
jadi sastra yang terus berpijar

Seperti itulah...
kisahku dan kisahmu
ku tulis dalam sajak puisi
penuh teka-teki

Bungo, 03 Oktober 2026