Sumber photo : adibe firefly


Bejo dari tadi mondar-mandir di depan Sudrun yang sedang duduk santai di bawah pohon jambu. Sambil menikmati singkong rebus plus kopi hitam Sudrun tidak memperdulikan Bejo dan membiarkannya terus mondar-mandir terus.

"Drun... masak dari tadi aku mondar-mandir enggak peka kamu, mbok ditanya gitu lho.. ", ucap Bejo dengan nada sedikit marah.

" Lho kenapa aku yang harus peka, kan kamu sendiri yang mau mondar-mandir ", dengan santai Sudrun menjawab.

" Sebagai teman dekat ya ditanya gitu lho?, kenapa aku mondar-mandir dari tadi", kata Bejo yang merajuk.

"Ya udah.. emang kenapa?", dengan penuh malas akhirnya Sudrun bertanya.

" Nah gitu.. jadi teman itu harus peka, jadi aku kan..."

"Ya udah emang kenapa kamu?! ", sekarang Sudrun yang mengamuk karena pertanyaannya enggak langsung dijawab.

" Aku lapar Drun...", ucap Bejo malu-malu.

"Yo wes... Makan singkong rebus ini saja", kata Sudrun sambil menyodorkan sepiring singkong.

" Masak tiap hari makan singkong Drun, sesekali perbaikan gizi gitu", Bejo mulai merayu Sudrun.

"Enggak ada dana, sudah makan singkong saja", Sudrun menolak mentah-mentah.

" Ayolah...? Sesekali kita makan di warung Yuk Darmi", masih belum nyerah Bejo mencoba terus merayu.

" Duitku tinggal 15ribu enggak cukup untuk makan kita berdua", Sudrun tetap menolak, karena nanti ujung-ujungnya dia juga yang harus bayar. Memang sudah kelakuan Bejo dari dulu sering minta traktir.

"Aman.. nanti sisanya aku yang nanggung", dengan semangat Bejo menjawab.

" Ayo berangkat kita.. ", Sudrun pun tak kalah semangatnya karena ditraktir sama Bejo.

Mereka berdua berangkat ke warung Yuk Darmi yang menyediakan berbagai menu masakan mulai dari nasi goreng, sampai ayam penyet. Bejo dan Sudrun memesan menu yang sama soto dan teh hangat. Mereka pun lahap dan menikmati makanannya, maklum biasanya mereka cuma makan singkong rebus, pisang rebus, ubi rebus dan nasi jagung.

"Mantap Jo... Kayak gini tiap hari bisa gemuk badanku", Sudrun berkata dengan muka yang riang sekali.

" Aku juga mau, asal kamu yang traktir", Bejo merespon lalu minum teh hangat yang tinggal sisa separuh.

"Cepat habiskan, nanti Mbah Saberang nyari kita di pos ronda", pinta Sudrun yang melihat teh hangat Bejo masih separuh.

" Oke.. Saatnya kita bayar-bayar", kata Bejo menirukan gaya Nex Carlos, foodvlogger favoritnya.

"Yuk Daaarmiii.. ", Bejo memanggil.

" Iya Jo.. ", Yuk Darmi menjawab pelan.

" Sudah Yuk.., jadi semuanya berapa?, soto dan teh angetnya", tanya Bejo memastikan.

"Semuanya 42ribu, Jo.. ", ucap Yuk Darmi setelah menghitung semua menu yang dipesan Bejo dengan kalkulatornya.

" Busssseeett... mahal amat Yuk?, biasanya enggak segitu", Bejo bertanya dengan ekspresi kaget.

"Itukan biasanya, sekarang harga bahan pokok pada naik, ya terpaksa kita naikkan juga harganya", jawab Yuk Darmi.

" Okelah Yuk, ini baru ada 30ribu yang 12ribunya kasbon dulu Yuk... ", kata Bejo dengan ekspresi yang menahan malu.

" Oke, awas ya kalau sampai enggak bayar", Yuk Darmi mengancam.

" Kalau Yuk Darmi enggak percaya, ini saya tinggal KTP untuk jaminan", sambil menyodorkan KTP Bejo berkata, namun Yuk Darmi menolak, karena sudah saling kenal jadi saling percaya saja.


Sudrun pun yang melihat kejadian ini hanya tersenyum saja dan berjalan keluar menunggu Bejo di motor. Sebenarnya Sudrun kasihan, tapi mau gimana lagi dia juga punya duit 15rb saja. Untung Yuk Darmi baik, kalau tidak alamat sudah diminta cuci piring.

"Bikin malau saja kamu Jo.. Besok jangan sok-sokan traktir orang lagi dah.. ", gerutu Sudrun yang ikut menanggung malu.

" Iya siapa tahu jika harga makanannya naik. Kan kita enggak pernah ke sini beberapa bulan lalu, tapi kok naiknya enggak kira-kira", ucap Bejo tak mau disalahkan.

" Wajar saja Jo...harga makanan naik, makanya cari informasi, cukup update berita saja biar kamu enggak jadi orang kagetan, memang sudah semestinya harga makanan naik, wong bahan pokok dan bahan bakunya juga naik", Sudrun menjelaskan.

" Bisa-bisanya harga bahan pokok pada naik, negara kita kan tanah surga, subur dan makmur, tapi kenapa bahan pokoknya mahal, beras mahal, gula mahal, minyak goreng mahal, padahal tanah kita luas, lautan kita luas, masak iya urusan pangan saja enggak becus ngurusi", Bejo tidak terima dengan penjelasan Sudrun.

"Realitanya seperti itu Jo.. Kita negara agraris tapi nasib kita miris. Semuanya serba impor, padahal kita bisa tanam sendiri. Susu dan daging pun juga impor, meskipun kita sebenarnya bisa bertenak sendiri, faktanya?, lihat sendiri tidak ada dukungan yang memihak wong cilik, mereka lebih suka impor daripada memperdayakan rakyatnya, harga-harga mahal tapi petani maupun perternak nasibnya masih miris, yang untung ya mereka", Sudrun antusias menjelaskan meskipun sembari membawa motor, Bejo yang membonceng serius mendengarkan.

"Benar juga ya, nasib miris di negara agraris. Dengar-dengar harga beras kita yang termahal seasia tenggara ya?", tanya Bejo penasaran.

" Iya betul itu, miriskan?, negara besar tapi tidak berdaya, loyo dan tak punya kekuatan. Hanya aumannya saja yang menggelegar. Seperti harimau yang kelaparan tinggal tulang belulang, harimau yang dihadapannya ada segerombolan kerbau tapi tidak bisa menangkapnya, atau lebih miris lagi orang dulu bilang tikus mati dilumbung padi, itulah nasib kita. Nasib miris di negara agraris", semua unek-unek Sudrun ditumpahkan malam itu.

"Miris banget, Drun," Bejo mengangguk, meresapi kata-kata Sudrun.

"Kita seharusnya bisa lebih baik dari ini", imbuhnya.

"Harusnya, tapi kenyataannya berbeda. Semua tergantung pemangku kebijakan mau dukung dan memperdayakan petani dan peternak lokal atau tidak. Ketergantungan terhadap impor tak bisa jadi solusi, karena harganya sudah pasti dimainkan, jadi sampai di kita sudah mahal harganya", jawab Sudrun sambil memacu motor.

"Benar sih katamu, tapi ngomong-ngomong besok pinjam uang 12ribu ya?, untuk bayar hutang ke Yuk Darmi tadi", dengan cengengesan Bejo merayu.

" Nah kan ujung-ujungnya aku juga yang bayar", gerutu Sudrun.


Bungo, 28 September 2024