Sumb Tokopedia


Identitas Buku :

Judul : Namaku Alam
Penulis : Leila S. Chudori

Siapa yang tidak tahu peristiwa G30S PKI, sejarah kelam yang pernah dilalui oleh bangsa ini, semua tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu telah mendapatkan ganjarannya, namun bagi keluarga yang ditinggalkan masih merasakan dampaknya.

Buku karya Leila S. Chudori ini memberikan perspektif dari sisi lain keluarga yang terkena dampaknya dan diceritakan dalam bentuk novel, anda bisa mendapatkan bukunya di sini : Buku Namaku Alam.


Sinopsis :

Buku ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki bernama Alam yang menjalani kehidupan di tengah hiruk-pikuk Jakarta bersama keluarganya. Melalui sudut pandang Alam, kita diajak menyelami berbagai pengalamannya sehari-hari, mulai dari hubungan keluarga hingga persahabatan dan lingkungan sosial yang dinamis.

Melalui novel Namaku Alam, penulis Leila S. Chudori menceritakan tentang tokoh Alam ini yang menjalani kehidupannya sebagai anak dari simpatisan Gerakan 30 September 1965 atau G30S PKI. Dari lahir Alam telah diberikan cap “anak pengkhianat negara” yang akan terus melekat pada identitasnya dan terus akan ditanggungnya seumur hidup, dengan latar belakang keluarga Alam ini lah yang menempa kehidupan pertemanannya, hubungan dengan keluarganya, sampai kisah percintaannya.

Alam tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar dan pemahaman yang mendalam tentang dunia sekitarnya. Ia belajar tentang arti keluarga, kasih sayang dan ketulusan, serta bagaimana menghadapi masalah-masalah kecil yang kadang menguji kesabarannya. Buku ini membawa pembaca menyusuri jejak kehidupan Alam dengan nuansa yang ringan namun penuh makna, sambil menyelipkan pesan moral tentang pentingnya cinta, empati dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Leila S. Chudori mengemas cerita ini dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh emosi, menjadikannya bacaan yang menyenangkan, ringan dan mudah dipahami alur ceritanya.

Resensi :

Buku Namaku Alam merupakan salah satu karya Leila S. Chudori yang menyajikan cerita dengan kedalaman emosional dan refleksi yang sederhana namun kuat. Buku ini mengangkat kisah seorang bernama Alam, yang hidup di tengah Jakarta dengan berbagai dinamika dalam keluarganya, sekolah dan lingkungannya. Melalui sudut pandang Alam yang polos dan penuh rasa ingin tahu, pembaca diajak menyelami cara berpikir Alam yang sarat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan.

Alam merupakan karakter yang mudah disukai karena ia digambarkan sebagai seseorang yang cerdas, kritis, meskipun dengan latar belakang keluarga yang di berikan cap sebagai pengkhianat negara namun Alam tetap ceria dan apa adanya. Buku ini mengangkat tema-tema yang relevan dengan kehidupan seperti hubungan keluarga, persahabatan, serta pengalaman-pengalaman kecil yang dapat memberi makna mendalam. Meskipun sederhana, Leila dengan cerdik menyisipkan pesan-pesan moral yang bisa kita petik.

Alam digambarkan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan photographic memory yang membuatnya tidak bisa melupakan semua hal dalam kehidupannya, baik itu memori baik ataupun buruk. Kejadian pertama yang mampu dia ingat yaitu ketika segerombolan orang menggeledah rumahnya untuk mencari keberadaan bapaknya. Alam saat itu masih berumur 3 tahun bersembunyi dengan penuh ketakutan di bawah meja dan mendengarkan jelas semua keributan yang terjadi. Alam juga masih ingat betul saat dirinya bersama Ibunya, Kenanga dan Bulan diperintahkan datang ke Budi Kemuliaan untuk menemani ibunya interogasi.

Alam punya sahabat yang bernama Bimo, dengan latar belakang keluarga yang sama membuat Alam menjalin persahabatannya semakin akrab. Bimo juga merupakan anak seorang simpatisan PKI yang tidak bisa kembali pulang ke Indonesia akibat kebijakan Soeharto yang melarang para simpatisan PKI di luar negeri datang kembali ke Indonesia.

Karena kisah masa lalu yang kelam dan bayang-bayang kedua bapak mereka sebagai simpatisan PKI terus menghantui keseharian dan memberikan dampak yang besar bagi mereka berdua, Alam dan Bimo pun saling menguatkan dan berbagi cerita.

Penulis Leila S. Chudori, mampu menyajikan dialog yang lincah dan deskriptif yang membuat kisah Alam terasa hidup dan autentik. Pembaca, dapat menikmati dinamika cerita Alam dan orang-orang di sekitarnya yang begitu mengalir dan ringan.

Salah satunya adalah persahabatan antara Alam dan Bimo yang saking kuatnya persahabatan mereka bisa diibaratkan, jika mereka hidup sebagai binatang, maka Alam adalah anjing pelacak dan Bimo adalah kelinci putih yang manis, jinak dan polos. Jika mereka berdua di dunia adalah tumbuhan, Alam ibarat kaktus berduri yang cenderung menikam jika merasa terancam, sementara Bimo merupakan dedaunan adiantum yang halus, berbatang bak benang tipis yang mempesona.

Jika mereka ada di dalam benak John Lennon, maka Alam adalah bagian dari partitur “Come Together” sedangkan Bimo hidup dalam lagu “O, My Love” yang lembut bak suara buluh perindu. Jika kami hidup di jaman Mahabharata, sudah jelas Alam adalah Bima, dan dia yang bernama Bimo adalah seorang Yudhistira. Hubungan mereka berdua saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan diantara mereka justru menjadi harmoni dalam kehidupan persahabatan antara mereka berdua.

Melalui analogi yang dideskripsikan oleh karakter Alam, menunjukkan kuatnya persahabatan antara Bimo dan Alam yang mungkin jarang ditemukan di novel-novel fiksi lainnya. Dari potongan singkat cerita di atas menunjukkan kepawaian penulis Leila S. Chudori dalam memaparkan imajinasi dan kreativitasnya.

Penulis menyampaikan karakter tokoh utama dengan detail dan hubungan di antara mereka menggunakan personifikasi lewat binatang, tumbuhan, musik, kisah mahabarata, hingga sebuah karya seni yang menjadikan novel ini semakin menarik. Analogi ini tidak hanya memperjelas tiap karakter yang ada dalam cerita, namun juga bisa membantu pembaca untuk memahami karakter setiap tahunnya tokoh yang ada dalam buku ini.

Secara keseluruhan,  Buku "Namaku Alam" adalah buku yang tidak hanya menghibur, atau sekedar bacaan novel biasa tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang esensial dengan cara yang mudah dipahami. Leila sebagai penulis telah sukses menyampaikan cerita yang ringan, syarat dengan makna dan memberikan kesan mendalam bagi siapa saja yang membacanya.

Dalam buku ini juga mengangkat kembali tragedi 1965 yang kurang banyak dibahas, yaitu dari segi keluarga dari simpatisan PKI. Media ataupun sejarah lebih banyak membahas mengenai kronologi peristiwa, maupun perdebatan dalang dari tragedi besar G30S PKI, ataupun tokoh-tokohnya. Tidak banyak yang menyinggung atau mengambil sisi lain dari keluarga korban, trauma dan stigma yang membayangi mereka seumur hidup.

Selain isu penting peristiwa G30S PKI dari sisi lain, Leila juga menghadirkan romansa masa SMA di dalamnya yang menambah keseruan buku ini. Dikisahkan dalam buku ini hubungan asmara antara Alam dan Dara yang terhalang oleh latar belakang keluarga yang berbeda, Alam dengan kondisi keluarga yang lebih sederhana dan Dara dengan keluarga yang punya gaya hidup yang elit. Di lain pihak, Tommy sebagai kakak dari Dara sangat anti terhadap latar belakang Alam yang merupakan anak dari simpatisan PKI bahkan menghina Alam di acara keluarga Dara saat itu.

Meskipun buku ini penuh kontroversi karena mengangkat isu dan tema yang memantik diskusi berbagai akademisi atau pun kalangan pembaca buku, buku ini tidak memiliki konflik besar seperti novel lainnya. Konflik dalam buku ini hanya terfokus pada diri Alam dan konflik dirinya sendiri yang ia hadapi sebagai korban tidak langsung dari peristiwa G30S PKI.

Kelebihan :

Gaya bahasa yang digunakan oleh Leila S. Chudori sangat lincah, mengalir dan autentik. Ini membuat pembaca terhubung lebih dalam dengan alur ceritanya yang memberikan pesan moral dan pelajaran hidup bagi pembacanya.

Melalui buku ini penulis juga mengenalkan kepada pembaca tentang konsep-konsep sejarah baru dan mendorong mereka untuk mengenalnya lebih dalam, mampu berpikir kritis, tidak mudah menyerah dan berani dalam mengambil keputusan.

Kekurangan :

Buku ini tidak begitu tebal, sehingga durasi cerita menjadi relatif pendek, hal ini mungkin membuat beberapa pembaca merasa kurang puas konflik ceritanya yang tidak dikembangkan, sehingga hanya membahas dari satu sudut pandang saja.

Buku ini tidak membenarkan kejadian masa lalu yaitu pengkhianatan G30S PKI, buku ini hanya menceritakan betapa struggle-nya perjuangan keluarga yang terkena dampak peristiwa itu, jika anda berminat dan tertarik dengan buku ini, bisa anda dapatkan di sini : Buku Namaku Alam.