![]() |
Sumb photo : istock |
" Lagi krisis Drun... kalau gratis oke aja aku", ucap Bejo yang masih sibuk scroll hapenya.
"Kamu ini hobinya gratisan terus", keluh Sudrun.
" Ya kalau uangmu ndak cukup, yo wes... pergi sana sendirian", seloroh Bejo yang masih saja sibuk scroll hape dengan wajah serius.
" Mesti ta... yo wes lah...ayo ikut, daripada disana nanti sendirian", Sudrun akhirnya pasrah harus traktir Bejo.
"Nah gitu... dari tadi", Bejo semangat dan langsung memasukkan hapenya ke dalam saku celananya.
" Beh... Semangatmu Jo, dapat gratisan", kata Sudrun dengan muka kecutnya. Tapi, mau di bagaimana lagi, memang begitu kelakuan Bejo.
Mereka berdua pun berboncengan cari es cendol di pertigaan jalan dekat jembatan. Mereka sudah langganan minum es cendol Lek Bardi yang masih satu dusun. Mereka tentu sudah kenal akrab dengan Lek Bardi ini.
" Dua gelas Lek es cendolnya ", ucap Bejo sembari jalan ke tempat duduk di belakang Lek Bardi.
" Bayar sek utangmu Kang.. ", ucap Lek Bardi yang bermuka masam.
" Iya Lek nantilah... kalau rencek sudah laku nanti dibayar", sahut Bejo cengengesan.
" Bayar dulu Kang... Jangan nambah hutang terus, sudah 30 ribu hutangmu, setelah bayar baru aku buatkan nanti "
" Buatkan aja Lek, ini nanti aku yang bayar", Sudrun menengahi perdebatan antara Bejo sama Lek Bardi.
" Ini untung saja dibayari Sudrun, kalau enggak ih... awas kamu Jo", ancam Lek Bardi.
"Baru juga 30 ribu Lek", lagi-lagi Bejo menyahut.
" 30 ribu itu banyak Jo, bisa diputar lagi untuk beli bahan es cendol. Ada 30 orang yang seperti kamu, bisa bangkrut jualanku Jo.. ", masih saja Lek Bardi ngomel.
Baca Juga :
" Udah Lek.. berdebatnya nanti.. buatkan es cendolnya dulu", Sudrun mencoba menengahi lagi.
Lek Bardi pun diam dan langsung membuatkan dua gelas es cendol pesanan Sudrun dan Bejo. Mereka duduk menikmati es cendolnya di tempat sambil ngobrol-ngobrol yang ujung-ujungnya sama yaitu perdebatan antara Bejo dan Lek Bardi.
Bagi Sudrun sudah hal biasa perdebatan antara mereka berdua terjadi. Akrabnya mereka ya seperti itu, padahal walaupun sambil ngomel-ngomel, jika Bejo ngutang es cendol tetap aja dibuatkan oleh Lek Bardi. Berdebat enggak sampai buat sakit hati, tidak seperti tetangga sebelah gara-gara berdebat ayam sama telur duluan mana membuat kalap yang akhirnya membunuh temannya sendiri.
"Salahnya Lek Bardi sih... Lulusan sarjana dengan nilai cumlaude tapi bukannya jadi pegawai negeri atau serendah-rendahnya pegawai swastalah... Malah Lek Bardi pilih jualan cendol", entah apa yang dibahas, tiba-tiba berbicara seperti itu.
"Kenapa jika jualan cendol?, memang ada yang salah orang pilih jualan es cendol?, ini sudah pilihanku jualan es cendol", dengan senyum-senyum Lek Bardi menanggapi Bejo.
Sudrun tetap hanya sebagai penikmat perdebatan mereka berdua. Sesekali menyalakan rokok lalu minum es cendolnya. Entah ada faedahnya atau tidak tapi Sudrun suka dengan perdebatan mereka dan rasanya seru saja.
" Ya jelas salah Lek.. sudah lulus sarjana masak jualan cendol. Lebih baik enggak usah sekolah tinggi, jika memang pilihanmu jualan es cendol. Rugilah, sudah habis dana banyak untuk sekolah tinggi, eh... tahunya cuma jualan cendol", ledek Bejo.
"Ha... ha... ha... ", bukannya merespon justru Lek Bardi tertawa terbahak.
" Lho kamu kok malah tertawa Lek...? ", tanya Bejo yang bingung melihat Lek Bardi, harusnya dia marah atau membantah, ini malah tertawa terbahak-bahak.
" Ya.. aku tertawalah... justru karena aku kuliahlah aku memutuskan untuk jualan es cendol. Karena jadi sarjana pikiranku jadi luas, bebas dan merdeka, tidak berpikir kerdil yang mengharuskan lulusan sarjana jadi pegawai negeri atau swasta, yang penting berbaju rapi jadi orang kantoran. Itu pemikiran yang sempit sekali. Karena jadi sarjana pikiranku bebas dan luas. Sarjana boleh jadi apa saja dan bisa jadi apa saja, tidak bisa dituntut seperti apa mau orang lain, apalagi tuntutanmu Jo.. Jika, ada yang masih berpikiran sarjana harus jadi pegawai tertentu itu masih sempit pikirannya", dengan santai Lek Bardi menjawab.
"Jadi, menurut Lek Bardi pikiranku sempit?", Bejo sekarang bertanya memastikan apakah Lek Bardi sedang menyindirnya.
" Ha... ha... ha... Kamu pikir sendiri saja Jo, jika pikiranmu luas kamu pasti tahu apa yang aku maksud, ha... ha... ha... ", Lek Bardi tambah terbahak-bahak tertawanya.
" Kapok kamu Jo... kena batunya sendirikan kamu, ha... ha.. ha... ", Sudrun ikut tertawa dan Bejo hanya terdiam dengan muka masamnya.
Bungo, 06 Agustus 2024
0 Comments
Post a Comment