Rasanya hati ini patah dan pilu. Retak rasanya melihat pemerintah banyak tingkah. Gengsi, sok jaga harga diri. Padahal, mereka lamban dan tidak becus menangani bencana yang terjadi. Mereka hari ini merasa mampu mengatasinya sendiri. Namun, kenyataannya situasi sampai hari ini masih tak tertangani. Harus berapa lama saudara-saudara kita terus hidup terisolasi?. 

Perut lapar, akses air bersih tiada, listrik tidak menyala, akses jalan terputus, sampai kapan mereka harus terus menunggu dalam situasi yang serba terbatas. Mereka berada diantara jurang hidup dan mati yang menganga didepan mata.

"Kasihan saudara kita di Sumatera", ucap Sudrun dengan mata yang berkaca-kaca melihat berita yang lewat diberanda instagramnya.

"Iyaa, Drunn... Sudah sejak tanggal 25 November sampai hari tanggal 14 November masih juga belum tertangani. Sudah 20 hari", mata Bejo juga sudah berembun, dadanya sesak.

" Bagaimana nasib mereka ya?, Iiih... miris sekali tindakan pemerintah kita ini. Kenapa jika enggak mampu buat saja status bencana nasional, agar negara-negara lain ikut serta, ikut membantu gitu", geram sekali nampaknya wajah Sudrun.

"Aku juga bingung, Drun.. dengan sikap pemerintah yang merasa hebat dan bisa sendiri. Kenyataannya nol besar. Padahal, ini soal hidup dan mati masyarakatnya. Pantas saja, ditengah ketidakbecusan ini, bila ada yang pekikan " Merdeka! " dari sana terasa sangat wajar. Meskipun... "

"Meskipun apa?", Sudrun memotong, karena saking penasarannya.

Bejo kemudian lanjut menjelaskan.

"Meskipun situasi ini dimanfaatkan oleh sebagian orang memancing di air yang keruh untuk mengelorakan kemerdekaan di tanah mereka. Terlepas dari itu, pemerintah kita tidak serius menangani bencana ini. Kepala penanggulangan bencana saja bilang, situasinya hanya mencekam di medsos saja, padahal dia belum tahu menyeluruh hal apa yang terjadi. Meskipun, setelah itu pernyataannya diralat".

"Ohhh... tidak boleh menuduh seperti itu, bahwa ada pihak-pihak yang memancing diair keruh. Itu pernyataan yang keliru menurutku. Kalau memang benar dari suara hati rakyat bagaimana?, mereka tidak dipedulikan, merasa diabaikan, ditinggalkan bahkan disepelekan -hanya dibilang mencekam di medsos. Pekik 'Merdeka!' ini adalah bentuk akumulasi dari kekecewaan sekaligus kemarahan", semangat betul Sudrun hari ini membantah Bejo.

Bejo menyadarkan kepalanya ditiang pos ronda malam itu. Hatinya juga remuk, retak dan patah melihat tindakan pemerintah yang serba lamban. Melihat saudara sebangsa, setanah air yang harus menghadapi nestapa dari bencana ekologis hasil dari perselingkuhan pemerintah dengan pengusaha dalam hal perusakan alam.

Sumb photo : liputan6.com



"Iyaa... bisa saja aku keliru", Bejo mengangguk-anggukan kepalanya.

" Pekik 'Merdeka!', itu mungkin benar seperti katamu, agar suaranya tidak semakin menggema, agar suaranya tidak terus membesar, menggelinding bak bola salju. Pemerintah harus bereaksi cepat tanggap menangani warga masyarakat yang terdampak. Pemerintah juga tidak perlu malu-malu atau gengsi menerima bantuan internasional. Menetapkan bencana nasional disaat ini adalah hal yang tepat agar penanganan saudara kita disana segera bisa dijangkau. Sebelum semua terlambat", ucap Bejo dengan suara serak menahan sesuatu yang menyangkut ditenggorokannya. Bejo tidak ingin tangisnya pecah.

"Jadi, boleh dong?, dan wajar sekali jika mereka berteriak ingin merdeka kan? ", suara Sudrun samar namun terdengar. 

" Boleh, boleh saja sebagai bentuk kritik keras kepada pemerintah. Tapi... ", 

" Kenapa lagi?", Sudrun menyelak sambil menatap Bejo.

"Tapi... aku boleh juga tetap khawatir dong?, ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi ini. Kemarin aku baca ada pejabat-pejabat daerah yang menjarah bantuan, mereka bagikan atas nama mereka dan partainya kepada masyarakat yang justru tidak terdampak bencana. Ada juga pejabat-pejabat daerah yang mempersulit masuknya bantuan, harus izin sana sini. Ada juga maskapai, perusahaan logistik yang nir empati ongkos pengiriman dinaikkan, bantuan barang yang bernilai 50 juta ongkos kirimnya bisa mencapai 350 juta sendiri, saudara yang diseberang pulau Sumatera jadi kesulitan mengirimkan bantuan. Bukannya ngasih diskon tapi memanfaatkan situasi. Belum lagi truk-truk bantuan di tengah jalan juga ikut dijarah, menambah catatan kelam dalam penanganan bencana ini. Sehingga, bantuan itu tak sampai pada yang berhak, lalu pihak-pihak itu berteriak, memekikkan keinginan untuk 'Merdeka!', menggelorakan dan menyusupkan ke hati warga masyarakat", tambah tertunduk lesu Bejo menjelaskan.

" Memang ada pejabat-pejabat yang seperti itu?, miris sekali mereka menjarah bantuan. Apa benar berita pengusaha logistik yang nir empati itu?, emang ada masyarakat kita yang tidak terdampak menjarah truk bantuan?, kok tega mereka itu yaa..dimana hati mereka?", Sudrun kini bertanya-tanya.

" Semoga saja aku salah, Drun... dan semoga berita yang aku baca itu hoax saja", dalam pikirannya yang kalut, Bejo tak bergairah berbincang malam ini.

Baik Bejo maupun Sudrun tidak bisa membayangkan, jika negara yang dicintainya harus terpecah hanya gara-gara pemerintah lamban dalam menangani bencana ekologis ini. Nilai yang harus dibayar mahal oleh pemerintah yang mementingkan gengsi dan harga diri, meski kenyataannya terseok-seok.

"Sesungguhnya, dalam situasi ini kita tidak bisa melakukan apa-apa ya?, kecuali berdonasi dan mengirimkan do'a saja. Aku harap negeri ini tetap utuh tidak terpecah belah", kata Sudrun menatap langit malam yang semakin larut.

" Aku juga enggak tahu harus bertindak apa, Drun... kita hanya rakyat kecil seupil. Kita hanya bisa berharap pemerintah daerah maupun pusat segera bertindak cepat menangani warga masyarakat yang terdampak bencana ekologis ini, menetapkan secepat-cepatnya status bencana nasional, agar mereka segera bisa tertangani dan lekas pulih, sehingga pekik 'Merdeka' ditanah Sumatera tidak terus menggema. Supaya bencana ekologis ini tidak jadi pemicu pecah belahnya negeri ini, seperti ramalan yang diucapkan pemimpin kita", Bejo seperti kehilangan semangat, bahkan segelas teh hangat didepannya berubah jadi dingin belum ia minum, walau seseruput pun.

"Semoga saudara kita yang terdampak bencana ekologis ini segera tertangani, semoga pekik 'Merdeka' berubah jadi pekik 'rakyat sejahtera dan makmur! ', semoga tidak ada sesal dikemudian hari. Semoga negeri ini tetap utuh, semoga... semoga... ", dan masih banyak lagi semoga-semoga yang diucapkan oleh Sudrun dan diaminkan oleh Bejo agar tersemogakan.

Bungo, 14 Desember 2025