![]() |
| sumb photo : unsplash.com |
Aku pernah mengemis
Berharap apalagi?
Aku pernah juga mengais
Apa itu harga diri?
Peduli apa?
Jika hati telah berkata
Logika luruh tanpa sisa
Persetan orang bilang apa
Bila hati tergerak oleh rasa
tak peduli meski kehilangan muka
Sering diri ini memohon
Layaknya serial drama yang muak ditonton
Setiap malam tangan menengadah
Bersimpuh diatas sajadah
atas hati yang gelisah
Apalah daya
Memeluk pohon, tangan tak sampai
Apalah guna
Terus memohon, hati telah rapat terkunci
* Aksara
Ku kibarkan panji-panji peperangan
Kan ku robohkan benteng pertahanan
Tapi kau terus membangunnya kembali
lebih tinggi dan tangguh
hingga, tak bisa ku sentuh
Sayang aku bukan Muhammad Al Fatih
Penaklukan Konstantinopel yang gigih
Di akhir garis perjuangan
Tak ada kata kekalahan
Kau lari dari medan pertempuran
Padahal, kau diambang kemenangan.
Kenapa tidak menghunusku?
dengan pedang kebencian
Bukankah lebih baik hadiah kematian?.
Bukan membiarkan aku hidup
dengan penuh luka ketidakpastian
Jantung berhenti berdegup
Lebih baik daripada penyiksaan
Menanggungnya sepanjang hayat
ditulisnya dalam lembar-lembar riwayat
adalah kenyataan pahit yang paling menyayat
Jika, semua cara telah dicoba
Seluruh strategi sudah terlaksana
Aku bisa apa?
Bungo, 02 Januari 2026

0 Comments
Post a Comment