Sumb photo dibuat menggunakan Gemini AI



Seperti biasanya setelah jam 2 siang Sudrun dan Bejo pergi ngarit ke sawah. Mereka mencari rumput di pematang-pematang sawah, syukur-syukur ketemu sawah yang belum ada tanamannya dan rumputnya banyak. Wah, itu namanya rezeki nomplok bagi mereka berdua. Begitulah hari-hari hidup di desa antah berantah yang jauh dari kepulan asap polusi.

Hidup mereka bisa dibilang ayem tentrem. Pagi mengelola sawah, agak sore ngarit untuk memberi makan ternak mereka. Sebuah konsep slow living yang diharapkan oleh orang-orang sibuk diperkotaan. Dari hasil sawah mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka mandiri masalah pangan, kadang lebih hasil panennya. Meski lebih mereka tidak akan berfoya-foya, mereka berinvestasi dengan membeli hewan ternak baik kambing, maupun sapi. Mereka mendapatkan compounding interest dari anak-anak kambing atau sapi, mereka lebih percaya gaya investasi seperti itu daripada deposito bunga bank.

Sore itu setelah karungnya penuh dengan rumput, Bejo dan Sudrun tidak langsung pulang. Mereka berdua duduk-duduk di pematang sawah untuk sekedar menghilangkan keringat. Mereka bercanda dan ngobrol apa saja tentang kehidupan sehari-hari.

"Suuuuuiiit... suuuuuiiit, can... ", berhenti sejenak " Aduhhh.. ", kepala Sudrun digeplak dari belakang. Entah siapa yang melakukannya.

Sudrun menoleh ke belakang dengan wajah marah, " Oh... ", setelah tahu yang menggeplak kepalanya adalah Mbah Saberang, nyalinya langsung ciut.

"Ada apa Mbah?, tiba-tiba geplak kepala Sudrun", Bejo bertanya heran.

" Ada apa?, wong sampean lulusan sarjana malah tanya sama aku", seperti biasa Mbah Saberang ini selalu penuh misteri kelakuannya. Bejo dan Sudrun harus menerka-nerka dan terus dibuat penasaran.

"Ya... kan aku bukan sarjana mentalis yang bisa baca pikiran, aku bukan sarjana psikologi yang tahu mens rea, Mbah Saberang kenapa mukul kepala Sudrun", Bejo mengerutu.

" Mens Rea?, ha ha ha", Mbah Saberang tertawa. 

Bejo dan Sudrun bingung bercampur kesal.

"Justru aku sedang menyelamatkan Sudrun", kata Mbah Saberang dengan tenang.

" Menyelamatkan dari apa Mbah?, wong kita loh baik-baik saja", protes Sudrun yang kepalanya masih terasa sakit.

Mbah Saberang menarik nafas panjang, "Jan ra dong, siulanmu pada Antika anak gadis Lek Man itu?, perilaku yang bahaya. Tidak boleh dilakukan, tidak boleh didiamkan, tidak boleh dinormalisasi".

Kini Mbah Saberang agak ngegas.

" Nah, kan kita seperti anak-anak muda normal biasa saat lihat gadis cantik", elak Sudrun ingin membenarkan perilakunya.

"Kalian ini tidak pernah diajarin Rape Culture Pyramid?".

Bejo dan Sudrun menggelengkan kepala.

Mbah Saberang menghela nafas lebih dalam.

" Tapi, kalian tahu ada kampus yang buat group yang isinya pelecehan?, juga ada kampus buat lagu yang isi lagunya merendahkan dan melecehkan perempuan?", Mbah Saberang memcecar mereka berdua.

Bejo dan Sudrun hanya bisa manggut-manggut, tak berani menyela perkataan Mbah Saberang.

"Nah... kalau kalian tahu, tapi diam saja, kalian bagian orang-orang menumbuhkan suburkan pelecehan seksual. Kalian adalah dasar dari Rape Culture Pyramid".

" Makanan apa itu sebenarnya sih, Mbah?, dari tadi bilang Rape... Rape... Aku tambah pusing dengernya. Ngomongnya pakai bahasa manusia Indonesia, Mbah... Endak usah keminggris", Bejo menyela, sepertinya dia tidak terima atas tuduhan yang dilontarkan oleh Mbah Saberang.

"Iya tu, Mbahhh... Apalagi aku yang cuma lulusan SD", imbub Sudrun yang tak kalah bersungut-sungut emosinya.


" Gini nih, mental anak muda zaman sekarang?. Generasi sachet, generasi instan. Pengennya ingin serba cepat. Kebanyakan nonton video short kalian berdua. Jadi, orang enggak sabaran. Sebelum Mbah menjelaskan panjang lebar, kita butuh yang namanya landasan berpikir, agar bisa memahami masalah secara utuh", kini Mbah Saberang yang geregetan sama mereka berdua.

Bejo dan Sudrun terdiam, dan saling lirik. Ngeri sekali membayangkan Mbah Saberang marah dihadapan mereka berdua.

"Baik aku jelaskan, Rape Cultur Pyramid bahasa gampangnya adalah Piramida Budaya Pemerkosaan, yang menggambarkan bagaimana budaya pemerkosaan tumbuh ditengah masyarakat tanpa kita sadari, terjadi setiap hari disekitar kita, dan anehnya kita menganggap itu sebagai hal yang wajar. Seperti siulan Sudrun tadi. Siulanmu itu merupakan pintu masuk menuju pelecehan seksual terhadap perempuan, dan kita tidak boleh menormalisasi perlakuan seperti itu".

Mbah Saberang berhenti, lalu membuka tutup botol bekas air mineral dan menuangkan kopi digelas plastik bekas air mineral juga.

"Sluuuurrp... ahh... ".

Terdengar suara Mbah Saberang menyeruput kopi, membuat Bejo dan Sudrun hanya bisa menelan ludah.

" Hal mendasar dari Rape Culture Pyramid, dimulai dari guyonan yang merendahkan perempuan, sexist joke bahasa kerennya. Memandang perempuan sebagai objek seksual, pemuas nafsu, lalu locker room talk, bicara tanpa tedeng aling-aling, begitu vulgarnya lisan kita merendahkan mereka, dan parahnya kita belum bisa melepas gender stereotypes bahwa diri kita lebih dominan daripada perempuan. Ini perilaku yang memunculkan celah-celah pelecehan seksual yang dilakukan oleh laki-laki seperti kita", Mbah Saberang bersemangat sekali rasanya menjelaskan.

"Jika perilaku dasar tadi ada dalam diri kita, maka munculah keberanian untuk melakukan catcalling, menggoda dan berkomentar tak senonoh. Saat kita diingatkan, kita sering melakukan victim blaming, menyalahkan perempuan, salahnya siapa pakaiannya seksi, begitu alasan kita. Kadang kita juga suka melabeli negatif seseorang atas ekspresi seksualitasnya, oh... ini menggairahkan, oh... ini aduhai... lalu kita diam-diam menyimpan photo, video dan menyebarkannya. Gambaran ini sudah naik satu tingkat dari dasar piramid".

Bejo dan Sudrun entah paham atau tidak yang penting manggut-manggut saja. Mereka berdua tahu, kalau sudah ada Mbah Saberang sudah bisa dipastikan kena ceramah. Tak peduli dimana pun, mau dipos ronda, dirumah bahkan saat ngarit asal duduk dengan beliau pasti dapat ceramah. Mungkin, kali ini bisa dibilang ngarit kahanan, selain dapat rumput, dapat juga pencerahan.

Seisap dua isap menghembuskan asap rokoknya dalam-dalam, Bejo dan Sudrun semakin fokus mendengarkan Mbah Saberang.

"Nah, setelah mulai berani menyimpan dan menyebarkan photo dan video, diri kita sudah masuk ke dalam non consesnsual photos, yang membuat gairah, birahi sebagai laki-laki menggelora, dan rasa penasaran pun mulai muncul. Tangan kita akhirnya mulai kurang ajar, berani menyentuh, groping atau meraba tubuh perempuan tanpa izin, melakukan sexsual harassment atau pelecehan seksual di ruang publik, memanipulasi perempuan, mengancam, menjebaknya untuk melakukan hubungan seksual. Hal-hal ini sudah mendekati puncak piramida ", Mbah Saberang menghela nafas panjang, dadanya terasa sesak, membayangkan betapa bejatnya orang-orang yang melakukan pelecehan seksual, orang-orang yang tak bisa mengontrol nafsu birahinya.

" Diminum kopinya dulu, Mbahh... biar gayeng ngobrolnya", ucap Bejo yang melihat wajah Mbah Saberang tiba-tiba berubah sedih.

"Iya, Mbah... biar enggak puyeng", Sudrun ikut menyahut perkataan Bejo.

Slurrrruppp.... Suara seruputan Mbah Saberang menikmati kopi hitam pahit kesukaannya.

" Baik... inilah bagian puncak piramidnya", setelah menyeruput kopi Mbah Saberang melanjutkan ceramahnya.

"Ini bagian yang paling menyesakkan. Jika, seseorang, atau laki-laki seperti kita yang kelakuannya bejat, tidak menemukan perempuan yang bisa dimanipulasi, mereka lantas bertindak nekat melakukan pemerkosaan terhadap perempuan, melakukan inses atau menggauli saudara sedarah sendiri. Tidak hanya bejat, tapi begis juga. Banyak diantara laki-laki bajingan tersebut untuk menutupi perilakunya yang bejat, mereka melakukan pembunuhan terhadap korbannya alias murder. Begitulah puncak kebiadaban dari Rape Culture Pyramid yang semestinya tidak boleh terjadi. Kita tidak boleh menormalisasi apa pun, menutup celah-celah terkecil yang menuju pintu masuk Rape Culture Pyramid. Makanya, aku geplak kepalamu tadi, Drun.. Sudrun. Aku ingin menyelamatkan dirimu", nafas Mbah Saberang masih berat sekali menjelaskan puncak piramid ini, bahkan matanya terlihat memerah menahan amarah.

"Maturnuwun, Mbah... sudah mengingatkan laki-laki yang tak tahu diri ini", kata Sudrun yang dengan cepat meraih botol bekas isi kopi hitam Mbah Saberang, lantas membaginya dengan Bejo yang sedari tadi sudah tak tahan dan hanya bisa menelan ludah saja.

" Dasar kalian berdua ini. Masih saja begitu... ayo cepat dihabiskan kopinya. Matahari sudah mau tenggelam ", kata Mbah Saberang yang sudah terbiasa dengan kelakuan mereka berdua.

Mereka bertiga selalu asyik bertiga ngobrol, meski duduk diatas pematang sawah seperti sore ini selepas ngarit.

Bungo, 29 April 2026