Sumb. Photo : unsplash.com


Di kamar yang sempit, pikiranku melayang,
terbang ke awang-awang.

Di sana senyummu mengembang
di antara bintang-bintang.
Membayang.

Mana mungkin aku bisa?
Aku hanya buruh kasar
dengan langkah yang kadang kehilangan arah.
Sedang kau—
sarjana,
berbudi bahasa,
beradat dan berbudaya.

Aku cuma debu jalanan
yang singgah di matamu barang sebentar.
Mana mungkin sejajar
dengan cahaya yang lahir dari ruang terang.

Setiap kata yang kuuntai,
mana mungkin membuatmu terbuai.
Barangkali bagimu
ia cuma suara bising
dari lelaki yang tak pandai memilih kata.

Sumpah serapah,
perkataan yang menghardik—
oh, hidup memang terlalu akrab
dengan bahasa semacam itu
untuk orang seperti diriku.


Aku sadar, rasa ini
sebatas kagum pada senja.
Mata hanya mampu menatap indahnya,
tangan tak akan sanggup
mendekap hangatnya.

Ya... mungkin memang hanya sebatas itu.
Lelaki berumur ini
tak lagi pantas bermimpi terlalu jauh.

Bagai pungguk merindukan bulan,
begitulah kadang nasib perasaan.

Daun muda
mana mungkin tumbuh
di ranting yang mulai menua.

Namun celotehanmu
biarlah tetap terngiang.
Parasmu
biarlah tersimpan rapi
dalam ingatan.

Hubungan kita mungkin hilang,
tetapi jejak langkah yang pernah terjadi
tak akan lapuk, meski
zaman datang silih berganti.

Bungo, 25 Mei 2026